Posted by : Kimochiman Selasa, 17 Desember 2013

Bismillah …

Melalui jurnal ini saya ingin menyampaikan pesan bahwa berhati-hatilah mengunggah foto di internet, khususnya foto anak usia remaja. Perkembangan dunia cyber crime sekarang makin mengerikan. Foto-foto yang dicuri bisa dijadikan ajang fitnah terhadap keluarga Anda. Sekali foto masuk di internet, Anda tidak bisa menariknya lagi. So, jangan asal unggah foto di internet (tanpa memperhatikan setting privacy), kecuali sudah merasa dikenal luas dalam dunia nyata!
Foto-foto yang dicuri itu untuk keperluan apa saja?
  1. Cyber Bullying, dengan mempermalukan anak tersebut di ruang publik.
  2. Penipuan transaksi seks.
  3. Layanan chat sex, phone sex.
  4. Dipajang di situs-situs porno setelah di photoshop. [Sidomi News]
  5. Untuk tujuan komersil.
  6. Pelampiasan emosi dengan berlindung dibalik foto orang lain.
  7. … dan lain-lain.

Sebagai contoh kasus, saya tunjukkan beberapa screenshot status Facebook dari akun bernama Meisya Candra Kartika [link: facebook.com/meisya.kartika.98?fref=ts] di akhir jurnal ini. Saat jurnal ini saya tulis, akun tersebut memiliki 9,253 followers. Woww! Hampir semua statusnya jahil sekali bunyinya. Salah satu contohnya ini:

.
Berdasarkan hasil investigasi, foto-foto narsis yang di-unggah adalah bukan asli milik akun Meisya, namun hasil mencuri dari beberapa akun, salah satunya bernama Puput. (Maaf, tidak perlu saya sertakan link nama akun tersebut karena masih di setting terbuka/public. Kemungkinan pemilik aslinya tidak tahu kalau foto-fotonya dicuri). Dengan menggunakan fitur google image akan mempermudah investigasi atau penelusuran pemilik foto asli.
Di bawah ini ada 2 kemungkinan mengapa akun jahil tersebut menggunakan foto orang lain:

[Kemungkinan #1] Untuk Gain Follower agar bernilai jual tinggi.
Teknisnya begini: Puput mengunggah foto-foto narsis sendirian di facebook atau social media lainnya. Suatu saat ada orang yang mencuri foto-foto Puput, ia bikin akun baru dengan nama berbeda. Sasaran korban yang dicuri adalah akun yang memiliki puluhan foto didalamnya. Selanjutnya, secara berkala (misal 2 hari sekali) ia unggah satu-persatu foto curiannya tersebut di akun barunya itu untuk meyakinkan banyak orang bahwa ia adalah real. Paralel dengan kegiatan unggah foto hasil curiannya, ia memposting status-status penghinaan yang bertujuan untuk mencari sensasi demi gain follower. Demi apa? Gain Follower. Untuk kelak kemudian akun yang sudah mempunyai banyak follower tersebut dijual. Kerjanya setiap hari hanya menciptakan sensasi dengan karakter antagonis agar mendatangkan banyak pengunjung dan terpancing meninggalkan komentar di sana, yang mana untuk meninggalkan komentar harus mem-follow akun Meisya.
Ada banyak cara untuk gain follower sehingga akun social media-nya itu mempunyai nilai jual tinggi. Salah satunya ya dengan kemungkinan #1 tersebut. Tidak aneh memang kalau sering bermunculan akun-akun sarap pendulang sensasi, seperti akun Tuhan Cibi (Cherrybelle) yang berisi kumpulan ayat-ayat Tuhan Cibi.
Akun-akun berfollower banyak ini siap dijual atau berevolusi menjadi online shop penipuan, yang lebih sering menggunakan alamat Batam untuk penjualan gadget. Dengan jumah follower yang banyak ini untuk untuk meyakinkan calon pembeli bahwa online shop tersebut telah dikenal luas. Setelah penipuannya berhasil, akun tersebut akan dengan mudah mengganti nama akun menjadi nama online shop yang lain.
Akun-akun dengan banyak follower yang dijual ini juga menyasar pada caleg untuk media kampanye, grup band baru, brand produk baru, dan mereka yang pengen ngartis di socmed.

[Kemungkinan #2] Memang dasar anak durhaka.
Saya pernah membaca status – status yang menyampaikan rasa kekecewaannya atau kekesalannya terhadap orangtuanya, namun baru kali ini saya menemukan status – status seorang anak yang seperti kerasukan jin ifrit merendahkan dan menghina orangtuanya. Kemungkinan ia memang sengaja menghina orangtuanya, namun bersembunyi dibalik foto orang lain.
Berdasarkan kedua kemungkinan tersebut perkiraan saya cenderung kepada kemungkinan #1. Ingat sebuah ungkapan: “bila ingin cepat kesohor, kencingi sumur zamzam”. Beberapa kejanggalan saya temukan sehingga pilihan saya bukan pada kemungkinan #2. Tapi itu tidak perlu saya bahas di sini, nanti orang jahat yang baca jurnal ini akan belajar menutupi kejanggalan tersebut :)
Namun, terlepas dari sifat pemilik akun tersebut, saya merasa miris karena yang me-LIKE status-status edan tersebut begitu banyak jumlahnya, bahkan sampai di atas seratusan. Apakah semuanya robot LIKE? Bisa iya, bisa tidak. Dalam pandangan saya, siapapun yang me-LIKE status-status gila tersebut adalah lebih durhaka dari pemilik akun Meisya Candra Kartika, karena sama dengan memberikan pembenaran dengan penuh kesadaran.
Lantas, bagaimana sikap kita terhadap akun-akun sarap seperti itu?
Ingat prinsip: “STOP Making Stupid People Famous!”
Maka Anda tidak perlu ikut waste time memberikan komentar di sana meskipun hanya sekedar menasehati, apalagi terpancing marah. Karena akun pencari sensasi tersebut memang dasarnya tidak butuh nasehat. Makin diomongkan, makin senanglah dirinya, karena ini bisa mendulang peningkatan follower, dengan memanfaatkan psikologis orang Indonesia yang (cenderung) ‘bersumbu pendek’. Apalagi untuk memberikan komentar di akun Meisya, Anda harus mem-follow-nya, nahh… jadinya malah masuk perangkap, yang hanya bikin bertambahnya jumlah followernya. Ini makin menguatkan pilihan saya untuk kemungkinan #1.
Anda hanya cukup melaporkan ke sistem administrator facebook atau me-REPORT ABUSE akun tersebut. Tidak perlu Anda follow untuk sekedar kepo. Ini berlaku untuk semua akun-akun gak jelas yang mencari sensasi dan menebar kebencian. Mari bangun budaya dan sikap seperti ini, sayangi waktu Anda.
Sekali lagi, bayangkan kalau foto-foto yang dipakai dalam akun sarap tersebut adalah ANAKMU.
Biasanya foto-foto yang dicuri adalah foto anak-anak yang tidak dikenal luas, sulit di-index di google, guna memperkecil kecurigaan.
Untuk menghindari pencurian foto anak kita itu caranya bisa dengan langkah pro-aktif, misalnya bangun prestasi anak, sehingga pers mencatat. Makin dikenal orang melalui berbagai liputan media massa, makin kecil kemungkinan orang iseng mencuri dan memanfaatkannya, karena pasti cepat ketahuan.
Kalau tidak mau dengan langkah pro-aktif di atas (tidak mudah memang), ya sudah … ajari anak men-setting privacy akunnya dengan baik. Atau bisa juga lebih ekstrim dengan tidak ada foto diri sama sekali, guna benar-benar menghilangkan resiko, sampai anak benar-benar mampu mengelola tanggungjawab-nya. Beres. Jangan biasakan anak bebas menjadi Selebriti Dinding, maksudnya narsis habis di wall akun social media miliknya. Kalau foto bareng-bareng mungkin bisa dimaklumi, misalnya publikasi atas kegiatan sosialnya atau sekolahnya.
Mari selamatkan anak-anak kita dari kejahatan dunia maya.
.
——————————————————-
Screenshot beberapa status lainnya pada akun FB Meisya Candra Kartika. Perhatikan juga jumlah yang me-LIKE status-status tersebut:






.
[Clue]

Petunjuk Dibalik Akun Meisya Candra Kartika
Petunjuk Dibalik Akun Meisya Candra Kartika
Source: Google Cache
Setelah kemudian ditelusuri melalui Google Cache, ini penampakan FB-nya: Pramudya Ivan
Ngakunya anak Politeknik Negeri Bandung.
Tambahan info dari Fathur Rakan lewat komentar di bawah, ini adalah terduga wajah asli pembuat akun Meisya yang diunggah tanggal 11 April 2013, saat tanggal itu akun tersebut belum bernama Meisya dan belum membajak akun Meisya asli sebagai akun ke-2 nya [Google Cache] :

Leave a Reply

Berkomentarlah dengan bijak dan sopan
Berkomentarlah sesuai dengan tema postingan
No Sara/Bicara Kotor karena pasti akan di Hapus

Anda Sopan Kami Segan :D

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

- Copyright © 2013 Gendro Media -Gendro Media- Powered by Blogger - Designed by Okviandre Yoga Putra -